Makassar, Bappelitbangda - Permasalahan Gizi tidak terbatas pada balita atau ibu hamil, tetapi juga menyentuh berbagai kelompok usia lainnya, termasuk remaja, yang memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup dan produktivitas mereka termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan, Dalam menghadapi kompleksitas masalah gizi, UNICEF dan Jenewa Madani Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan didukung oleh Tanoto Foundation menyelenggarakan kegiatan Dialog Interaktif Pelaksanaan Penguatan Gizi, pada Rabu, 16 September 2025 di Kantor Bappelitbangda.

Kegiatan diskusi ini dihadiri Plt. Kepala Bappelitbangda, Drs. Muh. Saleh, M.Si, Kepala Dinas Kesehatan, Dr. dr. H. M. Ishaq Iskandar, M.Kes., MM., MH Sekretaris Badan Dr, Andy M.Si, Kepala Bidang PPM, Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Erlan Triska, S.IP, M. Adm KP, Tim Ahli (dr. Djunaidi M. Dachlan, M.Si dan Prof. dr. Veni Hadju, M.sc., Ph.D), Tim Tanoto Foundation, UNICEF Indonesia dan Jenewa Madani Indonesia.
Kegiatan ini adalah kolaborasi pemerintah dan media dalam mendorong percepatan penurunan stunting di Sulawesi Selatan dan menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, media, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengatasi permasalahan stunting yang masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah Sulawesi Selatan.
Drs. Muh. Saleh, M.Si, Plt. Kepala Bappelitbangda Prov. Sulsel dalam sambutannya menegaskan bahwa setiap pihak memiliki peran penting dan perlu bekerja dalam sinergi. Ia mengingatkan bahwa jika kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak dijaga sejak dini, maka Indonesia berisiko menghadapi situasi yang mengkhawatirkan pada tahun 2045. “Kita tidak hanya mengejar angka, tetapi juga kualitas generasi masa depan. Jika stunting tidak ditangani dengan baik, maka bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi,” tegasnya.
Jika dilihat berdasarkan siklus daur hidup, dimulai dari bayi, balita, anak, remaja, dewasa hingga lansia tak luput dari permasalahan gizi. Salah satu masalah gizi stunting yang merupakan salah satu masalah gizi yang menjadi prioritas nasional dan daerah. Dampak stunting cukup luas, selain berdampak terhadap masalah kesehatan, juga masalah sosial dan ekonomi’ pungkasnya.
Lebih lanjut Drs. Muh. Saleh menyampaikan berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi Stunting di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 23,3%, angka ini berhasil turun dari tahun sebelumnya (2023) yaitu 27,4%. Sebaran kabupaten/kota menunjukkan terdapat 18 kabupaten/kota mengalami penurunan prevalensi dan 6 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan prevalensi. Adapun target penurunan stunting di Sulawesi Selatan pada tahun 2025 adalah 21,78%. Kita berharap target ini dapat dicapai pada akhir tahun ini”jelasnya.
Kami atas Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tak lupa kami ucapkan selamat datang Tim Tanoto Foundation, terima kasih atas kunjungannya ke Sulawesi Selatan semoga menjadi awal yang baik bagi keberlanjutan dan pengembangan program gizi di Sulawesi Selatan "tutupnya, Drs. Muh. Saleh".






Komentar : ( 0 )