Makassar, Bappelitbangda - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappelitbangda Prov. Sulsel, Drs. Muhammad Saleh, M.Si, secara resmi buka Lokakarya Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (PPATS) Tingkat 24 Kabupaten/Kota Tahun 2025, di Hotel Remcy Makassar, Rabu (1/10).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNICEF yang dilaksanakan selama 2(dua) hari, dari tanggal 1 hingga 2 Oktober 2025. Lokakarya strategis ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan PPATS serta menghasilkan gagasan dan ide dalam penanganan anak tidak sekolah.
Dalam sambutannya, Drs. Muhammad Saleh, M.Si, menekankan bahwa program PPATS di Sulawesi Selatan bertujuan memastikan semua anak usia sekolah mendapatkan layanan pendidikan, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Sulawesi Selatan. Penanganan anak tidak sekolah (ATS) merupakan salah satu prioritas pemerintah pusat yang harus dituntaskan.
Tantangan Angka Anak Tidak Sekolah dan Faktor Penyebab,Kepala Bappelitbangda Prov. Sulsel menyoroti bahwa penanganan ATS masih menjadi tantangan besar di Sulawesi Selatan karena angkanya masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang dipaparkan Data BPS Tahun 2024 menunjukkan persentase ATS usia 7-18 Tahun sebesar 7,25% , Data Dapodik per 26 September 2025 yang sudah terverifikasi mencatat sebanyak 21.012 Anak ATS dan Data ATS dari aplikasi SIPBM Pasti Beraksi per 29 September 2025 tercatat sebanyak 17.520 Anak, ”ungkap, Drs. Muhammad Saleh.
Berbagai faktor penyebab anak tidak sekolah juga diidentifikasi, antara lain tidak mau bersekolah, tidak ada biaya, sekolah jauh dari rumah, sudah merasa cukup dengan tingkat pendidikan saat ini, menikah/mengurus rumah tangga, mengalami kekerasan/perundungan/trauma di sekolah, bekerja, pengaruh lingkungan/teman, beranggapan sekolah tidak penting, tidak memiliki seragam sekolah, tidak memiliki Akta Kelahiran, serta masalah kesehatan/Penyandang Disabilitas, “jelasnya.
Program PASTI BERAKSI dan Penyusunan RAD ATS, dalam upaya nyata mengatasi masalah ini. Program PASTI BERAKSI telah berjalan di 24 kabupaten/kota dan berkontribusi pada pencapaian program pendidikan menengah universal 13 tahun serta peningkatan Indeks Pendidikan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara keseluruhan. Aplikasi SIPBM PASTI BERAKSI juga sangat berguna untuk mendapatkan data ATS by name by address. Meskipun demikian, data per 29 September 2025 menunjukkan baru 642 dari 3.051 Desa dan Kelurahan di Sulawesi Selatan yang mendata dan terverifikasi di aplikasi tersebut.
Lokakarya ini juga menjadi forum pembahasan Rencana Aksi Daerah Penanganan Anak Tidak Sekolah (RAD ATS) 2025-2029. RAD ATS ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan program pembangunan yang terintegrasi, efisien, dan berdampak langsung pada masyarakat melalui sinergi antar sektor di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Plt. Kepala Bappelitbangda menyampaikan apresiasi kepada UNICEF dan LPP Bone atas dukungan dan kerja samanya, serta kepada seluruh peserta dan 24 Kabupaten/Kota atas komitmen kuat dalam penanganan ATS,’tutupnya.
Acara ini dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di tingkat Provinsi seperti Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas PMD, Kepala DP3A, Kepala Dinas Sosial, Kepala Perwakilan Kantor Kementerian Agama, dan Kepala Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan. Selain itu, hadir pula unsur Dinas Pendidikan dan Bappelitbangda dari 24 Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan. Narasumber dalam lokakarya ini meliputi perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dan Dinas Pendidikan.






Komentar : ( 0 )